Ketika Umat Sibuk Bertengkar di Media Sosial, Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Lewatkan?

Ilustrasi umat berdebat di media sosial. Gambar: dibuat AI (prompt oleh Penulis).


Awalnya Aku Mengira Itu Sekadar Perdebatan Biasa

Beberapa bulan terakhir, ada satu kebiasaan yang tanpa sadar membuatku banyak merenung. Hampir setiap membuka Instagram, TikTok, lalu bergeser ke X (dulu Twitter), linimasa dipenuhi isu politik, agama, dan berbagai peristiwa yang sedang hangat diperbincangkan.

Awalnya aku menganggap itu hal yang wajar. Namanya juga media sosial, pasti selalu ada pro dan kontra. Namun semakin sering aku mengamati, aku justru melihat pola yang terus berulang.

Setiap ada isu yang menyangkut agama, politik, atau identitas kelompok, kolom komentar berubah menjadi arena pertarungan. Orang-orang saling menyanggah, saling mengejek, bahkan tak sedikit yang mengeluarkan kata-kata kasar.

Yang lebih menyedihkan, hinaan, cemoohan, sampai kalimat bernada rasis pun sering bermunculan. Rasanya semua ingin menang, tetapi tidak ada yang benar-benar ingin memahami.

Baca Juga: Dari Pemuda Biasa Menjadi Pribadi yang Mencintai Islam: Perjalanan Hijrah yang Mengubah Cara Pandangku

Threads Ternyata Tidak Jauh Berbeda

Belakangan aku juga mulai aktif membaca percakapan di Threads. Kukira suasananya akan lebih santai karena terhubung dengan Instagram, tetapi ternyata dinamikanya hampir sama.

Di sana juga banyak orang merasa dirinya paling benar, sementara yang berbeda langsung dianggap salah. Sesama muslim saling melabeli, muncul istilah "anti ini", "anti itu", hingga perdebatan yang semakin melebar ke mana-mana.

Aku tidak mengatakan semua orang seperti itu. Masih banyak akun yang menyebarkan ilmu dan inspirasi. Namun harus diakui, konten yang memancing emosi sering kali jauh lebih cepat menarik perhatian daripada konten yang menenangkan.

Yang Membuatku Heran, Bahkan Nasihat Pun Bisa Dipelintir

Ada satu hal yang paling sering membuatku berpikir.

Kadang seorang ustaz hanya menyampaikan nasihat sederhana tentang akhlak, kesabaran, atau persaudaraan. Namun jika diunggah pada momentum yang sedang panas karena isu sosial, politik, atau ekonomi, isi ceramah itu bisa dipelintir menjadi bahan perdebatan baru.

Bukan lagi membahas isi nasihatnya, tetapi orang mulai menyerang pribadi, organisasi, bahkan latar belakang ustaz tersebut. Seolah-olah setiap orang sudah datang membawa emosi masing-masing sebelum benar-benar mendengar pesannya.

Di situlah aku mulai sadar bahwa masalahnya sering kali bukan pada isi pesannya, melainkan pada kondisi psikologis orang yang menerimanya.

Islam Mengajarkan Kita Menggunakan Akal Sebelum Emosi

Semakin lama aku mengamati, semakin aku merasa bahwa Islam sebenarnya sudah memberikan panduan yang sangat jelas.

Allah SWT berfirman,

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya..." (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini terasa sangat relevan dengan kehidupan digital hari ini. Di tengah banjir informasi, seorang muslim tidak cukup hanya cepat bereaksi. Ia juga harus mampu berhenti sejenak, memeriksa fakta, dan memahami konteks.

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

"Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar." (HR. Muslim).

Hadis ini menurutku seperti pengingat untuk kita semua. Tidak semua yang viral layak dipercaya, dan tidak semua yang ramai dibicarakan harus ikut kita sebarkan.

Baca Juga: Medsos: Tempat Cari Ilmu atau Ladang Emosi? (Curhat Jujur dari Aku)

Mungkin Kita Sedang Kehilangan Fokus

Aku tidak tahu siapa yang memulai setiap perdebatan di media sosial. Namun yang jelas, aku melihat begitu banyak energi umat habis hanya untuk saling membalas komentar.

Kadang satu unggahan bisa menghasilkan ribuan komentar yang isinya saling menyerang. Berjam-jam waktu dihabiskan untuk mempertahankan ego, sementara persoalan yang benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat justru tenggelam.

Padahal hari ini kita masih menghadapi tantangan ekonomi, pendidikan, akhlak generasi muda, lapangan pekerjaan yang terbatas, pajak naik gaji tetap, kemiskinan, hingga berbagai persoalan sosial yang membutuhkan perhatian bersama.

Aku jadi bertanya dalam hati, jangan-jangan kita terlalu sibuk memperdebatkan sesuatu yang akhirnya membuat kita lupa melihat persoalan yang lebih besar.

Baca Juga: Ekonomi Melemah, Keamanan Ikut Goyah? Fenomena Sosial Indonesia 2026 Jadi Sorotan!

Perbedaan Tidak Harus Berakhir dengan Permusuhan

Aku percaya bahwa berbeda pendapat adalah sesuatu yang wajar. Para ulama sejak dahulu pun memiliki banyak perbedaan pandangan dalam masalah fikih.

Namun yang membuat mereka mulia bukan karena selalu sepakat, melainkan karena mereka tetap menjaga adab, menghormati ilmu, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling membenci.

Allah SWT mengingatkan,

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Ali Imran: 103).

Ayat ini terasa sederhana, tetapi sangat dalam. Persatuan bukan berarti semua harus memiliki pendapat yang sama, melainkan tetap menjaga ukhuwah meskipun berbeda cara pandang.

Aku Memilih Lebih Berhati-Hati

Dari semua yang kulihat setiap hari, ada satu pelajaran yang terus kupegang.

Sekarang aku berusaha tidak mudah terpancing hanya karena membaca satu unggahan atau menonton potongan video beberapa detik. Aku memilih membaca lebih lengkap, mencari sumber lain, lalu bertanya dalam hati, "Apakah ini layak membuatku marah?"

Karena aku sadar, media sosial dirancang untuk menarik perhatian. Semakin tinggi emosi kita, semakin lama kita bertahan di sana.

Umat yang Kuat Adalah Umat yang Sulit Diadu Domba

Pada akhirnya aku percaya bahwa kekuatan umat tidak diukur dari seberapa keras suara kita di kolom komentar. Kekuatan umat justru terlihat dari kemampuannya menjaga akal sehat ketika semua orang sedang terbakar emosi.

Jika kita membiasakan tabayun sebelum bereaksi, ilmu sebelum berkomentar, dan ukhuwah sebelum ego, insyaallah kita tidak akan mudah terbawa arus oleh isu apa pun.

Sebab umat yang paling sulit dikalahkan bukanlah umat yang paling sering berdebat, melainkan umat yang tetap tenang, kritis, dan menjaga persaudaraan di tengah derasnya arus informasi.

Komentar