Dari Pemuda Biasa Menjadi Pribadi yang Mencintai Islam: Perjalanan Hijrah yang Mengubah Cara Pandang Hidupku
![]() |
| Ilustrasi pemuda muslim yang sedang merenung di sore hari. Gambar: diperoleh dari republika.id |
Kalau beberapa tahun lalu ada yang bertanya tentang tujuan hidupku, mungkin aku akan menjawab sekenanya. Aku hanyalah pemuda biasa yang ilmu agamanya sangat minim, lebih sering menghabiskan waktu untuk hal-hal yang menghibur daripada yang menumbuhkan. Tanpa sadar, banyak cara berpikir dan gaya hidup yang kuikuti berasal dari pemikiran asing, bukan dari nilai-nilai Islam.
Apalagi waktu itu, aku dapatkan gambaran tentang Islam yang beragam mulai dari Islam teroris, radikal, sesat, intoleran dan masih banyak lagi. Aku sempat merasa, "Kok agama Islam seperti ini sih?!" Perasaan takut, bingung, dan waspada kalau ada orang yang ngajak ngaji atau kajian Islam yang tidak aku kenal, takut terbawa oleh aliran yang menyimpang dan sebagainya, jadi lebih hati-hati.
Saat itu juga aku mengira kebebasan adalah melakukan apa saja yang kusuka. Namun, semakin dijalani, justru ada ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi. Aku mulai bertanya, apakah hidup memang hanya tentang mengejar kesenangan sesaat?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi titik balikku. Aku mulai belajar Islam dengan lebih serius dan membiasakan diri berpikir kritis terhadap berbagai pemikiran yang selama ini kuterima begitu saja. Hingga akhirnya aku paham bahwa Islam tidak semengerikan yang disampaikan oleh media sosial dan juga orang-orang. Dari situlah aku menyadari bahwa Islam bukan sekadar kumpulan ibadah ritual, tetapi sebuah pedoman hidup yang menawarkan solusi bagi setiap persoalan manusia.
Baca Juga: Ngaji Ngak Harus Nunggu Sempurna
Aku pun mulai membangun kebiasaan baru. Setelah Al-Qur'an, aku membiasakan membaca buku-buku tentang akidah, fikih, sejarah Islam, sirah Nabi, hingga pemikiran Islam. Semakin banyak membaca, semakin kusadari bahwa Islam memiliki jawaban yang logis, menenangkan hati, sekaligus relevan untuk setiap zaman.
Belajar ternyata tidak cukup hanya lewat buku. Aku mulai menghadiri kajian-kajian keislaman di masjid, majelis taklim, serta berbagai kegiatan seperti peringatan Maulid Nabi maupun Rajab. Dari setiap majelis, selalu ada pelajaran baru yang membuka sudut pandangku tentang indahnya Islam dan luasnya rahmat Allah.
Perjalanan ini juga dipermudah oleh lingkungan yang baik. Aku pernah bergabung dengan komunitas pemuda hijrah, aktif di himpunan remaja masjid di daerah, hingga mengikuti berbagai kegiatan kokurikuler keislaman saat di kampus. Di sanalah aku belajar bahwa bertumbuh akan jauh lebih mudah ketika kita berjalan bersama orang-orang yang memiliki tujuan yang sama.
Salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan adalah menghadirkan sahabat-sahabat yang saleh. Mereka bukan hanya mengingatkanku ketika lalai, tetapi juga mengajakku terus belajar, berdiskusi, dan berjuang agar Islam semakin dikenal dan dicintai. Kehadiran mereka membuatku sadar bahwa teman yang baik bisa menjadi salah satu jalan menuju kebaikan.
Belajar Islam juga mengajarkanku bahwa keimanan harus melahirkan manfaat. Karena itu, aku mulai berusaha berkontribusi untuk lingkungan sekitar, sekecil apa pun yang bisa kulakukan. Mulai dari ikut membersihkan masjid, membantu kegiatan masyarakat, hingga berusaha lebih berbakti kepada keluarga, semuanya menjadi bagian dari proses memperbaiki diri.
Baca Juga: Ibadah Terasa Berat? Begini Cara Memulai Belajar Islam dari Langkah Kecil
Kini aku semakin yakin bahwa hijrah bukan tentang menjadi manusia yang merasa paling suci atau paling benar. Hijrah adalah proses belajar tanpa henti, memperbaiki diri sedikit demi sedikit, lalu mengajak orang lain merasakan indahnya Islam melalui akhlak, ilmu, dan kepedulian.
Aku masih jauh dari sempurna. Namun jika ada satu hal yang ingin kusampaikan kepada siapa pun yang sedang mencari arah hidup, jangan pernah takut untuk mengenal Islam lebih dalam. Bisa jadi, jawaban yang selama ini kita cari ternyata sudah Allah hadirkan dalam agama-Nya yang sempurna.
Nah, itulah sudut pandangku tentang perjalanan hijrahku belajar agama Islam, bagaimana dengan kisahmu?

Komentar
Posting Komentar