Jadi Orang Tua Zaman Sekarang: Lebih Ribet atau Lebih Sadar?

 

Ilustrasi menjadi orang tua zaman sekarang. Gambar: dibuat AI (prompt oleh Penulis)

.
Pernah nggak sih, merasa jadi orang tua zaman sekarang itu “kok banyak banget aturannya”? Dari urusan makanan anak, screen time, sampai cara ngomong ke anak—semuanya seolah ada “standarnya”. Belum lagi kalau buka media sosial, rasanya semua orang punya cara parenting masing-masing yang kelihatannya lebih “benar”.

Nah, di sini aku mau sharing terkait kondisi jadi orang tua zaman sekarang, dari sudut pandang orang tua Generasi Z. Mungkin kalian juga merasakan dan butuh pencerahan juga. 

Sehingga, muncul pertanyaan:
Sebenernya, jadi orang tua sekarang itu lebih ribet… atau justru kita jadi lebih sadar? 

1. Informasi Ada di Mana-Mana — Berkah Sekaligus Beban

Dulu, orang tua belajar dari pengalaman dan orang sekitar. Sekarang? Tinggal buka HP, langsung dapat ratusan tips parenting.

Ini jelas membantu. Kita jadi lebih paham soal perkembangan anak, kesehatan mental, sampai cara mendidik tanpa kekerasan.

Tapi di sisi lain, kebanyakan informasi juga bisa bikin overthinking.

Contohnya: 

  • Anak belum bisa baca di usia tertentu → langsung panik
  • Anak rewel → takut salah pola asuh
  • Lihat anak orang lain “lebih maju” → mulai membandingkan

Akhirnya, kita bukan cuma mengasuh anak, tapi juga “mengelola kecemasan”. Berarti tinggal usaha kita untuk mengelolanya dengan baik, karena kebanyakan scrool media sosial juga bisa membuat kita kebanyakan menerima informasi dan membuat kita pusing, bahkan overthinking.

2. Standar Parenting Makin Tinggi

Orang tua zaman sekarang nggak cuma dituntut memenuhi kebutuhan dasar anak. Kita juga merasa harus:

  • Jadi pendengar yang baik
  • Punya waktu berkualitas setiap hari
  • Mengontrol emosi dengan sempurna
  • Selalu sabar (padahal capek juga manusia)

Kesadaran ini sebenarnya bagus. Artinya kita ingin jadi orang tua yang lebih baik.

Tapi kalau semua harus “sempurna”, justru bikin kita lelah sendiri. Kalau di sini, kita bisa komunikasi dengan pasangan kita untuk saling membantu satu sama lain, termasuk dalam mengurus anak. 

3. Lebih Sadar Emosi — Tapi Juga Lebih Sensitif

Satu hal yang positif banget:
Orang tua sekarang lebih aware soal emosi—baik emosi anak maupun diri sendiri.

Kita mulai belajar:

  • Anak tantrum bukan berarti nakal
  • Emosi anak perlu divalidasi
  • Orang tua juga boleh capek

Tapi di sisi lain, karena terlalu mikir “benar atau salah”, kita jadi gampang ragu.

Hal sederhana pun bisa terasa berat karena takut salah langkah.

4. Peran Orang Tua Lebih “Aktif” dari Sebelumnya

Sekarang, jadi orang tua bukan cuma “mengurus”, tapi juga “mendampingi”. Berdasarkan hasil studi, orang tua Generasi Z itu lebih banyak beriteraksi dan mengobrol sama anak Generasi Alpha. Namun, juga harus lebih bijaksana dalam setiap kondisi anak. Selain lain harus lebih bijaksana, orang tua Generasi Z juga bisa menjadi: 

  • Teman bermain
  • Guru pertama
  • Konselor kecil-kecilan
  • Bahkan kadang jadi “content creator” dokumentasi anak

Ini bikin hubungan dengan anak lebih dekat. Tapi juga butuh energi lebih besar kan. Apalagi Generasi Z dan Generasi Alpha yang lahir di tengah majunya teknologi dan informasi. 

Mereka tumbuh dan berkembang bersama dengan HP, ini jelas tantangan bagi orang tua Generasi Milenial khususnya orang tua Generasi Z dalam mengasuh anak.

Kita ingin anak-anak kita main gadget pada waktunya, misalnya saat dibangku SMA atau sudah cukup dewasa lah, bukan ketika masih anak-anak.

Kita sebagai orang tua merasa takut, kalau interaksi kita sama anak-anak menjadi berkurang karena adanya HP. Selain itu, khawatir karakter dan adab anak kurang baik karena HP. Benar kan?

5. Jadi Ribet atau Jadi Lebih Baik?

Kalau menurutku sih dua-duanya ya.

Lebih ribet? Iya, karena kita memikirkan lebih banyak hal.
Lebih sadar? Juga iya, karena kita ingin memutus pola lama yang kurang baik.

Masalahnya bukan di “banyaknya aturan”, tapi di cara kita menyikapinya sih kalau gitu.

Ingat selalu nasihat Ali bin Abi Thalib untuk mendidik anak sesuai zamannya karena mereka hidup bukan di zaman orang tuanya. Apalagi mengajari anak adab dan akhlak yang baik itu sangatlah penting di zaman sekarang.

Mungkin, jadi orang tua zaman sekarang bukan soal harus selalu benar.
Tapi soal terus belajar, sambil tetap waras dan menikmati prosesnya.

Nggak semua harus sempurna.
Nggak semua teori harus diikuti 100%.

Kadang, yang anak butuhkan cuma:
orang tua yang hadir, cukup tenang, dan mau belajar.

Aku juga merasa demikian sebagaiorang tua yang hidup di zaman sekarang. 

Merasa capek dan stres menjalani kehidupan rumah tangga dan mengasuh anak. Namun, yang terpenting adalah bekali diri dengan ilmu, artinya kita mau belajar menjadi pasangan dan orang tua terbaik untuk anak-anak zaman sekarang. Misalya belajar parenting, karena aku muslim jadi aku belajar parenting Islam sebagaiamana di dalam Al-Qur'an dan Hadist Rasulullah Saw. 

Mindset yang selalu aku terapkan yaitu anak-anak bukanlah beban, melainkan amanah atau titipan yang telah Allah kasih sekaligus jadi ladang pahala bagi kedua orang tuanya. Mereka adalah anugerah dan aset berharga bagi kedua orang tua baik di dunia dan nanti di akhirat.

Nah, kalau kamu sendiri gimana?

  • Lebih sering merasa “terbantu” atau “terbebani” dengan banyaknya info parenting?
  • Hal apa yang paling bikin kamu overthinking sebagai orang tua?

Yuk, share ceritamu. Siapa tahu bisa saling menguatkan

 

Komentar

  1. Sepakat! Dibilang lebih sadar iya, dibilang lebih atau aga ribet iya juga. Haha. Satu poin besar yang aku dapat adalah jadilah orang tua yang berilmu, maka insyaAllah kita tidak akan kehilangan arah. Terima kasih sharingnya hihi :)

    BalasHapus

Posting Komentar