Review Seri My First Tauhid: Cara Seru Ayah Mengajarkan Tauhid pada Si Kecil

Mini boardbook My First Tauhid (dari Ziyadbooks). Gambar: Dokpri Penulis.


Membangun kedekatan dengan anak tidak selalu harus dengan mainan mahal atau jalan-jalan ke mal. Bagi aku, momen paling magis justru terjadi di pojok kamar, beralaskan karpet tipis, sambil memegang sebuah buku.

Rasanya baru kemarin sahabat istri memberikan kado spesial saat anak kami lahir: satu set mini boardbook edukasi Islami untuk anak usia 0-3 tahun yang berjudul My First Tauhid Seri Tauhid Pertamaku Mini Boardbook terbitannya Ziyadbooks. Siapa sangka, lima seri buku mungil ini sekarang menjadi "menu wajib" setiap kali aku pulang kerja atau saat menikmati waktu libur.

Ritual Pulang Kerja yang Menenangkan

Pulang ke rumah dengan tumpukan pekerjaan di kepala seketika sirna saat melihat mata berbinar si kecil menanti dibacakan cerita. Aku biasanya mulai dengan jilid "Allah Sang Pencipta" untuk mengenalkan bahwa semua keindahan di dunia ini ada pemiliknya.

Membacakan buku ini bukan sekadar rutinitas, tapi cara aku melakukan recharge energi setelah seharian beraktivitas. Apakah Ayah Bunda juga punya ritual membaca yang sama sebelum tidur?

Menjelajahi Keajaiban Diri dan Doa

Salah satu favorit si kecil adalah jilid "Allah Ciptakan Tubuhku", di mana kami belajar bersyukur atas mata, tangan, hingga kaki yang sehat. Sambil membaca, aku sering menyelipkan candaan ringan agar ia merasa bahwa belajar agama itu sangat menyenangkan dan tidak kaku.

Masuk ke jilid "Kusebut Asma Allah Selalu" dan "Allah Tempatku Meminta", aku perlahan menanamkan kemandirian spiritual sejak dini. Aku ingin ia tahu bahwa kapan pun dan di mana pun, ada Allah yang selalu siap mendengar curhatan kecilnya.

Aku mulai mengenalkan bahwa menyebut nama-nama Allah yang indah bukan sekadar hafalan, tapi cara agar hatinya selalu merasa tenang dan berani. Lewat buku ini, aku juga membiasakannya untuk selalu menengadahkan tangan dan meminta apa pun lewat doa, supaya ia paham sejak kecil bahwa hanya kepada Allah-lah kita bersandar dan meminta.

Mengunci Kedekatan dengan Kasih Sayang

Sebagai penutup rangkaian literasi kami, jilid "Allah Sayang Padaku" selalu memberikan rasa hangat dan aman sebelum ia terlelap. Pesan bahwa kasih sayang Tuhan itu luas sangat penting agar anak tumbuh dengan mental yang tangguh dan penuh rasa cinta.

Melalui buku-buku ini, aku sadar bahwa tugas ayah bukan hanya menafkahi, tapi juga menjadi jembatan pertama anak mengenal Penciptanya. Menurut Ayah Bunda, apa tantangan terbesar saat mulai mengajarkan konsep ketuhanan pada balita?

Mari Memulai Kebiasaan Baik

Mengenalkan Tauhid sejak dini adalah investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak terlihat hari ini, namun akan terasa saat ia dewasa nanti. Tak perlu menunggu waktu luang yang banyak, cukup 10-15 menit sehari dengan kualitas interaksi yang penuh cinta.

Semoga pengalaman sederhana aku ini bisa menginspirasi para orang tua di luar sana untuk terus konsisten membacakan buku bagi buah hati. Yuk, bagikan di kolom komentar buku apa yang sedang jadi favorit si kecil di rumah saat ini!

Komentar