Capek Kuliah atau Capek Nunda? Jujur Sama Diri Sendiri

Ilustrasi suasana mahasiswa menghadapi tugas sambil merenungkan antara capek kuliah atau capek karena menunda. Gambar: AI (prompt oleh Penulis).

Pernah ngerasa capek banget sama kuliah, tapi kalau dipikir-pikir lagi… capeknya tuh beneran karena tugas numpuk, atau karena kebanyakan nunda? Nah, ini pertanyaan yang kadang kita hindari. Soalnya lebih gampang nyalahin “kuliah yang berat” daripada jujur ke diri sendiri soal kebiasaan kita. Padahal, jawabannya bisa bikin kita ngerti diri sendiri lebih dalam.

Kuliah itu memang nggak ringan deadline, presentasi, tugas kelompok, belum lagi urusan hidup lain. Wajar kalau capek. Tapi ada jenis capek lain yang sering kita rasain: capek karena overthinking, capek karena ngerjain sesuatu mepet deadline, capek karena rasa bersalah akibat nunda terus. Ini bukan capek fisik, tapi capek mental yang pelan-pelan nguras energi.

Menunda itu kelihatannya sepele“ah nanti aja”tapi efeknya panjang. Semakin ditunda, tugas makin numpuk, tekanan makin besar, dan akhirnya kita kerja dalam kondisi panik. Ironisnya, kita jadi lebih lelah dibanding kalau dikerjain sedikit-sedikit dari awal. Di sisi lain, kalau kita bisa mulai lebih awal (nggak harus sempurna), beban terasa lebih ringan dan pikiran juga lebih tenang.

Itulah yang aku rasakan setelah duduk dibangku kuliah semester akhir (Semester 9). Bayangin, waktu itu aku sedang menyusun skripsi, tapi terkendala dengan banyak hal dan distraksi yang cukup menganggu fokusku. 

Mulai dari kegiatan organisasi di kampus, rutinitas harian, bahkan kegiatan komunitas di daerah pun aku ikuti. Kondisi saat itu adalah penyesuaian setelah situasi pandemi Covid-19 sejak awal 2020 hingga tahun 2021 yang menyebabkan mobilitas terbatas dan aktivitas bekerja harus online, termasuk kuliah.

Bisa dibilang, ini salah satu kondisi yang membuatku terjebak. Menunda pekerjaan karena merasa di zona nyaman dengan kegiatan-kegiatan yang disebutkan di atas. "Ah, santai aja dulu", "Nanti juga lulus", dan suara-suara sumbang lainnya yang menyertai hehe. 

Nah, ditambah dengan jarak rumah dan kampus yang lintas kota makin lah membuatku mager (malas gerak). Berbeda dengan teman-temanku yang masih ngekos di sekitar kampus atau rumahnya yang nggak jauh dari kampus, bisa gampang konsultasi dengan dosen pembimbing sehingga mereka bisa wisuda lebih dulu.

Walaupun demikian, akhirnya aku sadar, ternyata lebih capek nunda daripada kuliah itu sendiri. Menunda-nunda itu berdampak besar terhadap diriku di masa depan. Nunda kelulusan itu sama artinya dengan menunda kesuksesan. Aku pun harus mengorbankan waktu dan biaya, yaitu dengan menambah satu semester lagi di Semester 10 untuk fokus menyelesaikan skripsiku dan benar saja, alhamdulillah skripsiku selesai.

Ternyata selama ini, aku hanya perlu fokus terhadap masa depan dan diriku sendiri, dan tidak disibukkan dengan hal yang tidak berkaitan untuk diri dan massa depanku. Meskipun, kegiatan organisasi, komunitas, dan sosial lainnya ada manfaatnya juga untuk masa depan sih. Tapi, tahu fokus dan prioritas dan manajemen waktu juga penting, ini yang aku lewatkan saat itu.

Kalau begitu dari pengalamanku, coba sesekali kamu jujur ke diri sendiri: capek karena usaha maksimal, atau capek karena kebiasaan menghindar? Nggak perlu langsung berubah drastis. Mulai dari hal kecil misalnya 10–15 menit fokus tanpa distraksi. Dari situ, biasanya ritme kerja mulai kebentuk. Dan yang paling penting, kita jadi punya kontrol atas waktu kita sendiri.

Jadi, capek kuliah itu normal. Tapi kalau capeknya karena nunda, itu sinyal buat berubah pelan-pelan. Nggak harus langsung sempurna, cukup mulai sadar dan ambil langkah kecil. Karena pada akhirnya, yang bikin kuliah terasa berat bukan cuma materinya, tapi cara kita menjalaninya.

Komentar

  1. Menunda/prokrastinasi itu memang musuh bersama sih yaa. Padahal kalo kita memberi waktu khusus untuk setiap pekerjaan dan fokus akan itu, insyaAllah semuanya akan selesai dengan baik. Semangat :)

    BalasHapus

Posting Komentar